Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 November 2014

Tom and Cherry



Sudah sepuluh menit aku dan Tom duduk berhadapan di meja. Tom yang mengajakku duluan dan dia bilang ingin bicara. Tapi apa? Dia memang mentraktirku vanilla latte tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya duduk termenung, matanya tidak memandangku, tidak juga melihat sekeliling café. Aku pikir dia sedang menunggu seseorang tapi kelihatannya bukan itu. Lalu apa?
“Sebenarnya kamu mau bicara apa Tom?” tanyaku pada akhirnya, dengan nada sedikit lebih tent saja.
Tom tersentak lalu matanya beralih ke arahku. Dia terpaku seolah-olah bertanya kenapa aku ada dihadapannya. Benar-benar orang ini…
“Kamu ini lupa atau apa?” tanyaku lagi, aku sudah tidak sabar.
“Aku…” akhirnya dia bersuara. “Sepertinya aku membuat kesalahan. Aku buutuh bantuanmu tapi aku benar-benar bingung mengatakannya,” wajahnya terlihat frustasi.
Aku langsung memajukan badanku ke meja. “Katakan pelan-pelan, oke?”

Minggu, 17 Februari 2013

MY GLOOMY LUNAR



Meskipun bukan musim liburan, kebun binatang yang terletak di kawasan Jakarta Selatan tetap ramai pengunjung. Semua pengunjung terlihat antusias menikmati keanekaragaman satwa disana, termasuk Lintang, anak kelas 3 SMA yang berwisata sendirian. Tidak seperti anak-anak seumurannya yang lebih suka ke mall ataupun theater dengan teman atau pacar mereka, Lintang justru memilih kebun binatang sebagai tempat yang dia tuju untuk mengisi waktu sore sepulang sekolah. Seragam sekolahnya masih terlihat bersih meskipun agak kusut. Namun semua itu tak menghalangi Lintang untuk berjalan-jalan dengan senyum mengembang. Dengan menggunakan kamera ponselnya, Lintang mengambil gambar beberapa satwa yang dia kunjungi.

Sabtu, 29 Desember 2012

INNER LOVE




Aku bergerak serampangan mengambil tasku yang aku letakkan di meja rias. Tas berhasil kudapatkan dan aku keluar dari kamar untuk sarapan di dapur. Seperti biasa, aku harus menyeduh kopiku terlebih dahulu sebelum aku mulai mengusap selai coklat kacang pada dua helai roti ditanganku. Aku masih berdiri ketika roti sudah kutumpuk dan kugigit ujungnya. Perlahan aku menuju kursi yang ada di dapur dan kuraih koran pagi yang belum sempat kubaca.
Sambil menguyah, aku menelusur berita di surat kabar edisi pagi itu. Hampir semuanya berita tentang alokasi dana pendidikan dan korupsi. So old story. Aku pun bergerak lagi ke meja dapur untuk mengambil secangkir kopi yang sudah aku buat. Ternyata sudah tidak terlalu panas dan mulai kusesap kafein nikmat itu. Handphoneku tiba-tiba saja menjerit.
“Halo,” seketika aku angkat panggilan dengan tangan kiriku. Tangan kananku masih memegang secangkir kopi.

Rabu, 26 Desember 2012

Cerpen lagi

Setelah mendapatkan serangkain ehm kritikan dan masukan dari teman-teman reader setia gue, akhirnya gue memutuskan untuk membuat cerpen dengan cerita yang lebih wajar. Gue masih konsisten dengan nama-nama temen-temen gue karena yah gue suka aja gitu. (Sebenernya males nyari nama lain). OK fix, cerita ini fiksi belaka dan jangan berfikir yang nggak-nggak.
Cekidot:
Poster Harus Terpisah

HARUS TERPISAH

Starring: Heru Pramono, Pipit S Mularsih, Muhammad Ridlo Nur Ar Rofi, Yasinta Wulandari
OST: Harus Terpisah – Cakra Khan
Produser: Ann Zamzami
Editor: Ann Zamzami lagi
Script writer: Ann Zamzami juga
Director: Lagi-lagi Ann Zamzami
==========================================================

Jumat, 28 September 2012

Cerpen....


Hallo, akhirnya gue balik lagi setelah sebulan lebih gue vakumin ini blog. Nggak pengin curhat apa-apa sih cuma pengin nongolin tulisan gue yang satu ini... check it out...

SALAH TARGET

Heru berlari cepat menuju ruang F10. Dia sudah telat sekitar sepuluh menit. Begitu sampai disana, dia bernafas lega karena dosen literary study-nya ternyata belum datang. Yang dia lihat hanyalah beberapa onggok daging berisik yang tidak lain tidak bukan adalah teman-teman sekelasnya.

“Tumben lu telat, biasanya anak baik-baik kayak elu datengnya pagian,” cecar Ibnu ketika Heru mengambil kursi disampingnya. Dia hanya cuek menanggapi Ibnu.
“Emang anak baik-baik nggak boleh telat?” balasnya santai. Ibnu hanya menggelengkan kepala sambil merogoh tasnya mengambil buku catatan. Meskipun dia belum tahu apakah kuliah hari ini dia akan mencatat atau hanya sekedar mengalihkan fungsi sang buku menjadi bantal jika nanti dia ngantuk.
Sementara itu Heru masih santai mengambil nafas. Lari cepat seperti tadi membuatnya ingin duduk dengan tenang. Didepannya, ada Momon dan Sandy yang sedang ribut. Sudah biasa mereka beradu mulut seperti itu. lalu ada lagi Sofi yang selalu membela Momon. Heru hanya perlu menikmati setiap kalimat mereka tanpa harus ambil pusing.