Selasa, 12 Agustus 2014

A Simple Story about Simple 5



Tahun 2008 adalah tahun dimana gue pertama kalinya nge kos. Perasaan asing, exited (karena jauh dari tekanan orang rumah), was-was dan bingung campur aduk jadi satu kala itu. Belum lagi pikiran gue juga harus menyesuaikan diri dengan penghuni lama maupun penghuni baru lainnya. Singkat cerita, gue pun bisa lumayan bergaul dengan kakak-kakak cantik di sana. Gue juga berkenalan dengan empat penghuni baru lain yang resmi jadi keluarga gue saat itu.
Inilah kami simple 5. Kenapa simple 5? Nama itu terukir gitu aja di otak gue ketika gue ingin mendeskripsikan kita si lima orang ini jadi satu kata. Kita pribadi yang beda-beda, tapi gue sadar ada kesamaan yang menonjol diantara kita berlima. Kita anaknya sama-sama simple.
Berbeda dari temen seumuran kita saat itu, yang udah pada pake bedak setebel KBBI, kita masih pake sabun bayi. Ya tapi nggak lama setelah itu berubah lah sedikit. Tetep aja sih, seberubah apapun kita, image simple itu nggak pernah ilang. At least, itu dilihat dari sisi pandang gue.
Gue cuma lagi kangen sama mereka makanya gue nulis beginian. Lagipula, dengan cara begini, gue bisa memperkenalkan mereka pada dunia(???).
Berikut profile Simple 5

Jumat, 08 Agustus 2014

Another Story of VIXX’s Leo and Hyuk


VIXX memang sering merebut perhatian gue dengan lagu-lagu mereka ataupun variety shownya. Gue tau VIXX sejak lagu debut mereka ‘SUPER HERO’ dan masih suka sampe sekarang. Ya nggak semuanya diikutin cuma sering lah karena style VIXX dalam bermusik gue suka.
Tapi semua KPoper tau, bahwa gak cuma lagu aja yang jadi concern buat alasan mereka ngefans atau sekedar suka. Hubungan antar member ketika offstage juga jadi bahan menarik yang bisa ditonton atau digosipin. Termasuk gue. Memang nggak ada yang bisa dihebohin ketika gue lagi suka nonton variety show VIXX karena kebanyakan kpopers yang gue kenal nggak terlalu passionate sama boyband satu ini tapi tetep aja bagi gue VIXX masih menarik.
Gue yakin semua Starlight nonton Mnet Mydol dimana acara itu adalah cikal bakal VIXX yang sekarang. Semua orang tau bagaimana keadaan mereka saat baru dibentuk menjadi 6 orang dari 10 orang trainee. Apalagi ketika salah satu member terpilih adalah member baru, yang paling muda, yang paling singkat masa trainingnya dan susah untuk bersosialisasi sama member lain. Gue masih suka nonton lagi MyDol, ketika Hyuk takut dengan sosok Leo, si Hyung yang nggak banyak omong. Masih inget juga ketika Hyuk sama Hongbin kaya orang nggak saling kenal gitu padahal udah resmi akan debut bareng. Tapi nggak berselang lama, mereka udah bisa berantem. At least itu yang gue lihat.

Senin, 19 Mei 2014

A Friend to Share



Jadi jobless setelah lulus emang menyiksa batin. Bener-bener menguji kesabaran. Apalagi di rumah yang orang seisinya nggak punya pemikiran kayak gue. Bukan cuma beda pendapat aja, tapi lebih ke menyalahkan pendapat gue.
Yah, entah karena gue nggak tau malu atau sebenernya gue emang nggak punya kualitas, gue selalu diposisikan sebagai orang paling bego di rumah. Pengin gue mengutarakan sesuatu tapi karena udah tau jawaban orang rumah kayak apa, gue milih mingkem aja. “Nggak ada pekerjaan yang cocok buat kamu selain jadi guru,” kata bokap gue suatu ketika. Padahal, I don’t want it so bad. “Jadi guru itu mulia, banyak waktu luang buat belajar agama.” Atau kata-kata semacem, “Jangan kerja di dunia entertain, selalu ngejar waktu, selalu underpressured dan nggak tau kapan bisa ibadah.” Dan kebalikannya, gue sangat tertarik dengan dunia entertainment. Bertolak belakang banget sama keinginan orang tua gue.

Sabtu, 10 Mei 2014

Wibawa

Berfikir tentang kewibawaan, apa yang ada di pikiran kalian? Suara berat? Wajah garang dan di takuti? Gue nggak tau itu. Bagi gue wibawa itu power atau kekuatan, dan ngomongin kekuatan, gue yakin kalian setuju kekuatan bukan hanya berarti kekuatan fisik. Kekuatan atau power itu berasal dari mana aja. Jadi gue simpulkan, untuk jadi orang yang berwibawa, lo harus jadi orang yang kuat.
Terus apa gunanya wibawa itu? Jawabannya: Menguasai. Contohnya yang paling simple, yang paling sering berseliweran di kehidupan gue sehari-hari adalah wibawa seorang guru. Semua temen gue berpendapat sama tentang wibawa itu. jangan jadi guru yang terlihat mudah kalo ingin terlihat berwibawa. Nah terus gimana caranya biar nggak terlihat mudah? Sesekali galak? Jaga jarak dengan murid atau mengintimidasi murid-murid kalau guru adalah guru dan murid tetep murid, harus ada batasannya. Itu cara-cara yang menurut gue bukanlah cara untuk jaga wibawa.

Fokus

Banyak yang udah nasehatin gue kalo gue harus fokus pada satu hal. Tapi karena otak gue udah terlanjur geser, gue cuma ngangguk2 aja. Makasih udah diingetin. Fokus emang penting biar apa yang kita fokusin ini nggak keteteran. Tapi kalo cuma fokus sama satu hal? Otak gue ini bilang bosen. Gue ini agak2 mirip kelinci, bukan giginya, tapi lucunya, tapi karena gue nggak bisa diam di satu tempat. Bukan berarti secara lexical gue pecicilan banget, maksudnya adalah terhadap berbagai hal yang menjadi prioritas gue.

Merasa Cantik?

Pertanyaan itu adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang bikin kuping gue geli. Gue bingung aja ngejawabnya. Kalau gue mengakui bahwa gue cantik, apa kabarnya Titi Kamal dan Sandra Dewi? Tapi kalo gue bilang nggak, gue merasa gue nggak bersyukur aja dan mungkin sebagian orang menganggap bahwa gue nggak pede-an.
Sebenarnya definisi cantik itu apa sih? Cantik itu relative. Iya kan? Ada yang menganggap tinggi itu cantik, pendek itu cantik, gemuk itu cantik, kurus itu cantik bahkan oon juga ada yang bilang cantik. Terlepas dari cantik itu apa, gue hanya ingin menunjukan siapa gue sebenernya. Kalau ditanya gue cantik atau nggak, jawaban gue bisa ya atau nggak. Kadang gue merasa cantik, kadang gue merasa kalo gue sama sekali nggak cantik.
Entah ini bisa disamakan atau enggak, tapi gue merasa cantik ketika gue seneng. Artinya cantik=bahagia? Bisa juga. Bagi gue begitu.

Rabu, 16 April 2014

Wisuda : Sebuah Kekalahan atau Sikap Mengalah?

Tanggal 12 kemaren gue resmi di wisuda. Tapi momen ‘membahagiakan ‘ itu bukan hal yang excited buat gue. Kenapa? Karena dengan wisuda gue harus mengakui kekuatan keinginan orang tua gue. Harusnya bangga sih, orang tua selalu support agar gue lulus, tapi entah kenapa itu bukan yang ada di hati gue. Justru karena support itulah gue merasa gue telah kalah.
Ya. Gue resmi kalah telak. Pertama, gue harus kalah dengan birokrasi kampus yang menurut gue bukanlah birokrasi yang bagus. Gue mencoba idealis dengan hal itu tapi ternyata idealism gue seperti berakhir ketika gue wisuda. Gue mengikuti birokrasi yang nggak sesuai dengan idealism gue. Kedua, masih masalah idealism, gue harus kalah dengan dosen pembimbing yang sebenernya nggak membimbing, bahkan cenderung ngerepotin.